Kamis, 01 Maret 2018

OBSERVASI PELAKSANAAN TRADISI BUKA LUWUR SUNAN KUDUS

            OBSERVASI PELAKSANAAN TRADISI
BUKA LUWUR SUNAN KUDUS
LAPORAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester
Mata Kuliah IAD, IBD, ISD Semester Ganjil Tahun 2014
Dosen Pembimbing: EFA IDA AMALIYAH

Disusun Oleh:
                            1. Muhammad Syarofiddin Akmal             1410210001
                            2. Alaudin Shofi                                         1410210006
                            3. Lu'lu'il Maknun                                       1410210010
                            4. Muhammad Noor Firdaus                      1410210013
                            5. Siti Amanah                                            1410210017
                            6. Nunung Afnikha                                     1410210023
                            7. Fatkhiyakan                                            1410210026
                            8. Yanti Ismayasari                                     1410210027               
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TARBIYAH/PBA
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR
Pertama, kami sebagai penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan laporan Observasi ini sesuai  waktu yang telah di tentukan.
 Kami juga sangat berterima kasih kepada pihak sekolah yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas, khususnya bagi Ibu Eva sebagai dosen pembimbing, segenap jajaran pengurus yayasan Masjid Menara Makan Sunan Kudus (YM3SK), Muhammad Abdul Mun’im, Muhammad Badar, Bapak Denny, Bapak Yuha, teman-teman kelas A-PBA. Karena atas kerja sama yang baik kami bisa mengerjakan laporan ini.
Laporan ini disusun dalam  rangka memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Alamiyah Dasar, Ilmu Budaya Dasar (ISD, IAD, IBD). Observasi ini dilaksanakan pada tanggal 1, 2 dan 7 September  2014. Observasi ini telah kami  dilakukan di komplek menara, makam Sunan Kudus, Yayasan Masjid Menara Makan Sunan Kudus (YM3SK) Jl. Sunan Kudus,
Tiada gading yang tak retak. Dari peribahasa itu kami penulis menyadari laporan ini bukanlah karya yang sempurna karena memiliki banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan  kritik dan saran yang menbangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

Kudus, 12 November 2014
                                                                                 
Penulis



A.  Latar Belakang
Upacara adat jawa dilakukan demi mencapai ketentraman hidup lahir batin. Dengan mengadakan upacara tradisional itu, orang jawa memenuhi kebutuhan spiritualnya, eling marang purwa duksina. Kehidupan ruhani orang jawa memang bersumber  dari ajaran agama yang diberi hiasan budaya lokal. Oleh karena itu, orientasi kehidupan keberagamaan orang jawa senantiasa memperhatikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.[1]
Kudus merupakan kota yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, kota ini termasuk kota yang masih kuat memegang kebudayaannya yang telah dilaksanakan sejak dahulu, seperti halnya buka luwur Sunan Kudus, merupakan sebuah implementasi dari sikap masyarakat dalam menghormati serta mengenang atas semua jasa Sunan Kudus yang telah menyebarkan agama Islam juga disisi lain dalam bentuk melestarikan budaya yang telah ada beratus-ratus tahun yang telah dilakukan sepeninggalan Sunan Kudus.
Oleh karena itu kiranya menjadi pembahasan yang sangat menarik untuk mengetahui bagaimana sistematika acara tersebut. Namun dalam hal ini kami tidak akan membahas semua yang terkait dengan acara Buka Luwur Sunan Kudus, tetapi kami akan menjelaskan tentang setting acara tersebut.
B.  Rumusan masalah
1.      Apa Sejarah Buka Luwur Sunan Kudus ?
2.      Apa saja kegiatan buka luwur?





C.  Pembahasan
1.    Sejarah Buka Luwur Sunan Kudus
Adapun Sunan Kudus Sendiri adalah putra sunan Ngudung yang dalam tradisi cirebonan disebut Sunan Undung. Undung muda adalah putera saudara sultan mesir, dia adalah adik dari Rara Dampul. Dikisahan bahwa Undung dan Rara Dampul suatu hari melihat bianglala yang sangat indah. Keduanya tertarik darimana sinar indah. Keduanya tertarik darimana sinar indah itu berasal. Mereka menyusuri bianglala yang akhirnya sampailah dipusat bumi yang kemudian disebut Cirebon, Negara tempat Syarif Hidayatullah tinggal. Keduanya kemudian menemui Syarif Hidayatullah dan ternyata keduanya masih sepupu dengannya. Mereka melaporkan bahwa sinar negeri Cirebon terlihat sampai di Mesir dan mereka berdua kemudian sampai tiba di situ. Rara Dampul menyampaikan niatnya untuk tinggal di Cirebon sampai akhir hayatnya dan berniat menghabiskan masa hidupnya untuk berbuat kebajikan bersama Syarif Hidayatullah.[2]
Pemuda Undung disarankan pergi berguru kepada Sunan Ampel, dan kemudian ia menjadi murid yang disayanginya. Sunan Ampel kemudian mengawinkan Undung dengan seorang cucunya yang bernama Syarifah, anak Sunan Ampel yang bernama Ny. Ageng Maloka, adik Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Dari perkawinan ini lahir seorang putra Raden Fatihan atau Ja’far Shadiq, atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus setelah meninggal.[3]
Semenjak ratusan tahun tradisi[4] buka luwur sudah diadakan. Tidak diketahui siapa yang mencetuskan tradisi buka luwur itu. Penggantian luwur / kelambu makam sunan kudus bertujuan untuk mengukuri kain yang baru supaya bisa sama dengan ukuran luwur sebelumnya. Para ulama kudus sepakat bahwa tanggal 10 Muharrom sebagai Khaul. Namun ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa upacara tradisional Buka Luwur sebenarnya bukanlah Khaul atau peringatan wafatnya sunan Kudus, sebab kapan tanggal wafatnya sunan Kudus tidak atau belum diketahui.

2.    Kegiatan Buka Luwur
Diantara Rangkaian Acara Buka Luwur yang termasuk sakral antara lain :
No
Acara
Keterangan
1
Penjamasan Pusaka




















Acara dilaksanakan pada hari Kamis legi, Pukul 07.00 WIB 14 DzulHijjah 1435 H / 09 Oktober 2014. Prosesi ini dilakukan setelah hari tasyrik[5] dan dipilih hari senin atau hari kamis minggu pertama setelah hari tasyrik. Acara ini merupakan salah satu acara sakral dan yang hadir  masyarakat umum yang cukup antusias, mulai dari masyarakat kudus sampai masyarakat sekitar kudus, dan pada acara ini banyak dari masyarakat yang sengaja membawa benda pusakanya untuk dicuci atau dijamas menggunakan air bekas jamasan pusaka sunan kudus.
Penjamasan tersebut dilakukan di tajuk,[6] jadi masyarakat sekitar bisa melihatnya secara langsung. Menurut penuturan Muhammad Badar (55),   salah satu masyarakat Kudus.
2
Pelepasan Luwur Pesarean
Luwur[7] pesarean sunan kudus diganti  pada hari sabtu pahing, pukul 06.00 WIB atau 01 muharram 1436 H/ 26 oktober 2014 M. Menurut penuturan panitian YM3SK, Denny (40)[8]  Luwur sunan kudus akan di lepas oleh orang – orang  dan tamu undangan yang tertentu, mulai dari ulama, tokoh masyarakat dan para pejabat pemerintah. Jadi, acara ini merupakan acara tertutup yang tidak bisa langsung disaksikan oleh masyarakat umum, dan pelepasan luwur sendiri membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam.

3
Munadharah Masa’il Diniyyah
Pada dasarnya munadharah masa’il diniyyah[9] merupakan acara rutinan yang diadakan di masjid sunan kudus atau masjid Al Aqsa, dalam rangkaian buka luwur ini Munadharah Masa’il Diniyyah dilakukan pada hari ahad pon, pukul 08.30 WIB atau 01 muharam 1436 H/26 Oktober 2014 H seperti biasanya acara ini dilakukan di dalam masjid dan dihadhiri oleh masyarakat umum, menurut salah satu jama’ah “acara ini terbilang cukup ramai bahkan acara ini dihadiri oleh masyarakat luar daerah kudus seperti jepara, demak dan lain sebagainya”.
Dalam acara ini membahas berbagai masalah masyarakat, yang nantinya permasalahan tersebut diajukan kepada ulama atau kyai sekitar, dan pada akhirnya akan dibahas dalam majlis Munadharah masa’il diniyyah.

4
Doa rasul dan Terbang Papat
Acara ini dilaksanakan pada malam ahad kliwon, pukul 20.00  WIB atau 09 Muharram 1436 H/ 01 November 2014 M. Acara ini bias juga disebut Slametan[10] dilaksanakan di serambi masjid al Aqsha, dan bersifat umum. Dari salah satu warga kudus yang kami wawancarai  menuturkan bahwa acara tersebut cukup ramai dan dihadiri  oleh masyarakat sekitar kota Kudus. Setelah acara ini[11] selesai proses masak memasak dimulai.


5
Khotmil Qur’an Bil Ghoib
Acara Khotmil qur’an bil ghoib[12] ini dilaksanakan pada hari Ahad Kliwon  pukul 04.30 WIB, 09 Muharrom 1436 H/ 02 November 2014 M  di dalam masjid al Aqsha. Acara ini  bersifat umum,  sehingga masyarakat sangat antusias untuk mengikutinya.
6
Santunan Anak Yatim
Acara ini[13] dilaksanakan pada hari Ahad Kliwon  pukul 08.00 WIB, 09 Muharram 1436 H/02 November 2014 M.
7
Pembagian Bubur As-Syura
Acara ini dilaksanakan pada Ahad Kliwon pukul 08:00 WIB 09 Muharram 1436  H/02 November 2014. Pembagian bubur ini bersifat umum, tetapi hanya sebagian masyarakat yang menginginkannya, namun tidak seramai seperti halnya pembagian nasi jangkrik.
8
Pembacaan Qoshidah Al-Barzanji
Acara ini dilaksanakan di Masjid Menara al-Aqsha pada malam Senin Legi pukul 19.30 WIB 10 Muharram 1436 H/ 02 November 2014 M.
9
Pengajian Umum
Pelaksanaan pengajian ini pada malam Senin Legi pukul 20.00 WIB 10 Muharram 1436 H/02 November 2014 M. Lokasinya terletak di masjid Al-Aqsha, pembicaranya oleh K.H. Habib Umar al-Muthahar dari Semarang. Pengajian ini bersifat umum yang dihadiri dari berbagai daerah Kudus dan sekitarnya[14].
Sebagian dari mereka ada yang menyatakan bahwa mengaji itu “Kanggo sangu mati”, untuk bekal nanti kalau meninggal. Setelah mereka meninggal, mereka bisa hidup bahagia “Mungah Suargo” atau naik surga.[15]
10
Pembagian Berkat
Berkat[16] atau nasi bungkus ini dalam penamaanya masih berbeda-beda diantara masyarakat, ada yang menyebutnya sebagai nasi jangkrik dan ada yang menyebutnya nasi uyah asem.
Seperti penuturan Muhammad badar (45) “nasi ini adalah nasi jangkrik yang berisikan nasi dan lauk daging yang dibungkus dengan daun jati”.
Hal ini sedikit berbeda dengan penuturan Muhammad Abdul Mun’im[17] (26) yang tak lain adalah salah satu pengurus YM3SK dia mengatakan bahwa kami tidak akan menyalahkan apa penyebutan masyarakat terhadap nasi tersebut, tetapi sepengetahuan kami yang disebut nasi jangkrik adalah nasi yang berkuah seperti halnya ketika masyarakat mempunyai hajat baik sunatan, nikahan dan lain sebagainya. Nasi tersebut akan dibawa oleh orang yang mempunyai hajat ke pendopo tajug untuk didoakan, kemudian nantinya akan dimakan oleh petugas penjaga, itu yang dinamakan nasi jangkrik[18] yang merupakan salah satu makanan kesukaan mbah sunan, sedangkan nasi yang nantinya akan dibagikan pada hari senin untuk berkat ini adalah nasi yang tidak berkuah dengan lauk daging kerbau atau kambing yang dimasak dengan bumbu uyah asem yang dibungkus daun jati, dan kami biasa menyebutnya dengan nama nasi uyah asem.
Dalam pembagian berkat ini masyarakat rela berdesak-desakan untuk mengantri nasi tersebut. Seperti salah satu pengunjung dari Jepara, dia rela berdesak-desakan untuk mendapatkan nasi tersebut dari pagi sampai siang,
Acara ini merupakan salah satu dari acara puncak yang mana masyarakat dari kudus maupun sekitarnya  cukup antusias untuk menghadiri acara tersebut. Acara ini dilaksanakan pada hari senin legi.
Menurut penuturan salah satu panitia pembagian berkat (nasi uyah asem) akan dibagikan dari mulai dari sekitar jam 02.30, untuk dibagikan pada masyarakat yang pada haru itu (10 Muharram) akan melakukan puasa sunnah.kemudian akan dilanjutkan pada pagi harinya atau lebih tepatnya sesudah shalat shubuh sekitar jam 04.30.Dan pembagian ini dibagi menjadi dua tempat diantaranya untuk laki-laki dan perempuan.
Untuk para pengantri laki-laki akan di beri tempat antrian di gang sebelah toko mubarokatan toyyibah, dan untuk pengantri perempuan bertempat di gang  parkir motor (jalur masuk) sampai gang belakang menara atau gang manggala (jalan keluar).
Senin (5/12) lalu misalnya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah rela mengantri sejak pagi hingga siang untuk mendapat sebungkus nasi uyah asem. Mereka meyakini nasi uyah asem yang berupa nasi dan lauk seiris daging dibungkus daun jati itu mampu mendatangkan keberkahan tersendiri dalam kehidupannya.
Salah seorang masyarakat Kudus, Muhammad Badar (50) sengaja datang lebih pagi hanya ingin mendapatkan berkah dari sunan Kudus, beliau mengaku telah biasa mengikuti acara ini dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia mempercayai, nasi bungkus dari prosesi buka luwur akan membawa berkah "Sebagian nasi tersebut akan dimakan bersama keluarga, sisanya untuk para tetangga yang belum mendapatkan nasi tersebut," ujarnya.
Disamping runtutan acara buka luwur ternyata telah disediakan posko kesehatan yang berada di area parkir motor. Posko ini bertujuan untuk mewaspadai kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Dan juga pada malam acara punncak telah disediakan satu mobil ambulan untuk berjaga-jaga.






 Penutup
1.      Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tradisi Buka Luwur adalah tradisi yang sudah dilaksanakan pada zaman dahulu sampai sekarang, tradisi tersebut dilaksanakan untuk memperingati wafatnya Sunan Kudus yaitu K. H. Ja’far Shodiq.
2.      Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita menjelaskan tulisan ini. Masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, karna kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam hadits “al insanu minal khotto’ wannisyan, dan kami juga butuh saran/ kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dosen pembimbing mata kuliah IAD, ISD, IBD Ibu EFA IDA AMALIYAH, MA. Yang telah memberi kami tugas kelompok demi kebaikan diri kita sendiri dan untuk negara dan bangsa.




Daftar Pustaka
            Sofwan, Ridin, Wasit, Mundiri, 2000, Islamisasi di Jawa,Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mu’tasim, Radjasa, Abdul Munir Mulkhan, 1998, bisnis Kaum Sufi, Yoyakarta: Pustaka Pelajar.
Purwadi, 2005 Upacara Tradisional jawa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Notowidagdo,Rohiman, 2000, ILMU BUDAYA DASAR BERDASARKAN AL-QURAN DAN HADITS, Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Syam, Nur, 2005, ISLAM PESISIR, Yogyakarta: LKiS Yogykarta.








Lampiran






                                                                          












[1] Dr. Purwadi, M. Hum. Upacara Tradisional jawa. 2005.
[2] Ridin Sofwan, dkk. 2000, “Islamisasi diJawa”,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 127.
[3] Ibid. hal. 128
[4] Tradisi adalah Tata kehidupan dan kebiasaan masyarakat islam itu ditetapkan oleh islam untuk berhikmad terhadap akidah dan ibadahnya, pemikiran dan perasaannya, kemudian akhlak dan kemuliaannya.
[5] Tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah 1436
[6] Ada yang menyebutkan Tajuk adalah lokasi yang menjadi tempat tinggal sunan kudus.
[7] Luwur adalah kain putik yang menutup Makbaroh (makam) sunan kudus.
[8] Deni adalah salah satu panitian YM3 SK (Yayasan Masid, Menara, Makam Sunan Kudus) Yang berasal dari Sumatra. Dan Sampai sekarang beliau masih mendedikasikan waktunya untuk menjadi pengurus YM3 Sunan Kudus.
[9] Majllis pengajian yang teah ada sejak lama dimana di dalamnya membahas masalah-masalah keagamaan seperti Bahtsul Masail.
[10] Selametan tersebut terdiri dari prosesi pembacaan ujub, ndonga dan pembagian makanan.
[11]  Acara Doa rasul dan terbang papat merupakan start untuk memulai memasak, acara ini juga disertai doa diantaranya untuk meminta kepada Allah SWT. Akan kelancaran buka luwur.
[12] Khataman Qur’an yang di baca oleh para penghafal Qur’an.
[13]Pemberian bantuan antara lain berupa uang uang .
[14] Masyarakat yang hadir bukan dari kudus saja ada yang dari jepara, pati, demak, bahkan semarang.
[15] Radjasa Mu’tasim, Abdul Mun’im Mulkhan 1998, “Bisnins Kaum Sufi”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 109.
[16] Di ambil dari kata berkah atau barokah sengan tujuan yang memakannya akan mendapatkan berkah dari Allah SWT.
[17] Warga kota kudus tepatnya desa megawon yang telah berdomisili di kudus sejak puluhan tahun.
[18] Nasi yang di bungkus menggunakan daun jati.

0 komentar

Posting Komentar