Kamis, 01 Maret 2018

Sistem Pembelajaran Madraasah Diniyyah Di TPQH As-Sa’diyah

Sistem Pembelajaran Madraasah Diniyyah
Di TPQH As-Sa’diyah

            Madrasah Diniyyah atau yang sering kali disebut dengan “MADIN” adalah sebuah proses belajar mengajar yang didalamnya diajarkaan sebuah pelajaran tentang agama islam. Yang biasanya dilakukan oleh para guru agama pada waktu sore hari dan juga dengan waktu yang singkat yaitu sekitar satu sampai satu setengah jam.
            Madrasah diniyah ini dirintis oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jetak Kembang Kudus sejak tahun 2012, akan tetapi mengalami pasang surut karena kendala murid yang jumlahnya sedikit. Kurang lebih sampai 8 murid saja, itupun karena dipanggil, atau didatangi rumahnya. Yang biasanya bertempat di TK ABA III / TPQ Tunas Melati. Tujuan didirikannya TPQH As-Sa’diyah adalah untuk melanjutkanjenjang pendidikan agama setelah lulus dari TPQ Tunas Melati.
Dikarenakan banyak dari para santri setelah lulus TPQ tidak lagi mengkaji Al-Quran.
            Madrasah diniyyah TPQH As-Sa’diyah memang sangat berbeda dengan madrasah diniyyah lainnya. Perbedaan tersebut menjadi dalam dua kategori yaitu; sitem pembelajaran dan media. Dalam ketegori media meliputi tempat, waktu, dan alat.
            Pembelajaran non formal semacam TPQ, mainstream mendapatkan tenaga pendidik yang seadanya, sehingga praktis pembelajarannya monoton, dan terkesan hanya mementingkan aspek kognitif dalam hal agama. TPQH as-Sa’diyah menggunakan peluang dari poin ini untuk memaksimalkan stimulasi yang bisa diberikan kepada murid-muridnya. Berbagai metode yang tidak terpancang pada teori berhasil terlaksana. Keunikan ini menjadi magnet tersendiri bagi anak-anak yang tidak terikat secara registratif, namun datang sesuai keinginan hatinya. Mengingat perbedaan usia, tingkat pemahaman dan kemampuan mental, lembaga non formal yang berisi sekitar dua puluh anak ini menjadi layaknya kelas lintas usia yang inklusif. Pertukaran pikiran mudah sekali terinteraksikan, sehingga ada percepatan pematangan kemampuan secara kognisi maupun mental. Hal ini tentu menjadi titik positivistis apabila TPQH ini layak disebut sebagai lembaga  yang terus berkembang.[1]
            Dan anehnya para santri TPQH ini tidak dipungut biaya dalam bentuk apapun,  alias gratis. Bahkan setiap selesai belajar, santri ini di beri sedikit jajan dan minuman. Daya tarik inilah yang memicu para orangtua untuk memberi jajan secara cuma-cuma kepada para santripada hari-hari tertentu sebagai pengganti jajan yang biasanya diberikan oleh pihak TPQH itu sendiri.
           
                       
           
Oleh Muhammad Noor Firdaus



[1] Shoma Noor Fadlillah, Mahasiswi STAIN Kudus Jurusan Tarbiyah PAI, Semeseter 7.

0 komentar

Posting Komentar